
POHUWATO, Profakta.com — Dugaan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kecamatan Marisa, khususnya Desa Bulangita dan Desa Teratai, Kabupaten Pohuwato, kembali menjadi sorotan.
Bukan hanya persoalan dugaan aktivitas pertambangan tanpa izin, informasi yang berkembang juga menyeret seseorang berinisial AB, yang diduga berperan sebagai pihak pengumpul uang setoran dari sejumlah bos tambang untuk kemudian diserahkan kepada pihak yang disebut-sebut sebagai wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Dugaan tersebut disampaikan Plt Ketua LSM Galaksi Provinsi Gorontalo, Rheinal Mokodompis. Ia meminta informasi mengenai dugaan setoran tersebut ditelusuri secara serius untuk memastikan siapa yang meminta, siapa yang mengumpulkan, siapa yang menerima, serta untuk kepentingan apa uang tersebut diberikan.
Diduga Kumpulkan Setoran dari Bos Tambang
Menurut Rheinal, informasi yang diterimanya menyebut AB diduga menjadi pihak yang mengumpulkan uang dari sejumlah bos tambang yang aktivitasnya disebut-sebut berkaitan dengan PETI di wilayah Kecamatan Marisa.
Uang tersebut, lanjutnya, diduga dikumpulkan dengan alasan untuk diserahkan kepada pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan wartawan dan LSM.
Rheinal menilai informasi tersebut perlu diklarifikasi karena jika benar terjadi, praktik semacam itu dapat mencoreng nama baik wartawan dan LSM yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Kalau memang ada setoran dari beberapa bos tambang yang dikumpulkan oleh seseorang untuk kemudian diserahkan kepada wartawan atau LSM, ini harus jelas. Siapa penerimanya, siapa yang memberikan, berapa nilainya, dan untuk kepentingan apa,” ujar Rheinal.
Ia menegaskan, pihaknya tidak ingin mengambil kesimpulan sepihak. Menurutnya, dugaan tersebut harus diuji melalui bukti dan keterangan dari pihak-pihak yang berkaitan.
Rheinal Klaim Sempat Hubungi AB
Rheinal juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menghubungi AB untuk mengonfirmasi dugaan tersebut.
Namun, menurut Rheinal, jawaban yang diterimanya justru diduga bernada ancaman.
Rheinal menyebut AB menjawab:
“Bos, jangan usik kita. kita nda pernah usik orang. Kita pe orang satu kali satu. Kalo nga suka baku dapa deng kita sini kita tunggu nga.”
Menurut Rheinal, dirinya menghubungi AB semata-mata untuk meminta klarifikasi atas informasi yang berkembang.
“Saya menghubungi yang bersangkutan untuk mengonfirmasi informasi yang berkembang. Saya hanya meminta klarifikasi, bukan mencari masalah. Tetapi jawaban yang saya terima justru diduga bernada ancaman,” ujar Rheinal.
Minta Dugaan Aliran Dana Ditelusuri
Rheinal meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait tidak hanya memeriksa dugaan aktivitas PETI di Desa Bulangita dan Desa Terta, tetapi juga menelusuri apabila terdapat dugaan aliran dana dari para pengusaha tambang kepada pihak tertentu.
Menurutnya, apabila benar ada uang yang dikumpulkan dengan mengatasnamakan wartawan dan LSM, maka harus diketahui secara jelas siapa penerima dan peruntukannya.
“Jangan sampai nama wartawan dan LSM digunakan sebagai tameng untuk kepentingan pribadi. Kalau memang ada setoran, harus dibuka secara terang dan dibuktikan,” tegas Rheinal.
Ia juga meminta legalitas aktivitas pertambangan di wilayah yang disebutkan tersebut diverifikasi oleh instansi berwenang. Jika ditemukan aktivitas pertambangan tanpa izin, maka penanganannya harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
AB Belum Berikan Klarifikasi
Hingga berita ini diterbitkan, AB belum memberikan klarifikasi lebih lanjut mengenai dugaan dirinya sebagai pengumpul setoran dari sejumlah bos tambang maupun mengenai pernyataan yang disebut disampaikannya kepada Rheinal.
Redaksi memberikan ruang hak jawab dan klarifikasi kepada AB, para pengusaha tambang, pihak yang disebut sebagai penerima setoran, serta pihak lain yang berkaitan dengan informasi tersebut. (Red_Pro)



