Sepenggal Cerita dari Pejuang Pemekaran Bolmut, Benyamin Utusan

Oleh : Bahrudin A. Korompot (Penulis adalah Masyarakat Kabupaten Bolmut)
Ada sepenggal cerita tentang perjalanan panjang lahirnya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang tidak boleh begitu saja dilupakan.
Di balik berdirinya sebuah daerah, ada banyak nama yang pernah berjuang. Ada yang berada di depan, ada yang bekerja dalam diam, ada yang menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu, bahkan mengorbankan kepentingan pribadi demi sebuah cita-cita: agar daerah ini memiliki kesempatan untuk berdiri dan menentukan masa depannya sendiri.
Bapak Benyamin Utusan adalah salah satu bagian dari perjalanan perjuangan tersebut.
Kini, beliau telah berpulang.
Kepergiannya tentu meninggalkan duka bagi keluarga. Namun bagi masyarakat, kepergian seorang pejuang pemekaran juga seharusnya menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah.
Sebab daerah yang kita nikmati hari ini tidak lahir begitu saja. Ada proses panjang dan ada orang-orang yang pernah berjalan dalam perjuangan itu.
Namun di tengah suasana duka dan penghormatan terakhir kepada almarhum, ada hal yang menyisakan keprihatinan. Pemkab Bolmut tak menghadirkan utusan dalam pemakaman Bapak Benyamin Utusan.
Tentu, kita tidak mengetahui seluruh alasan di balik ketidakhadiran tersebut. Karena itu, tidak elok jika langsung mengambil kesimpulan atau menghakimi siapa pun.
Tetapi sebagai masyarakat, kita berhak menjadikan peristiwa ini sebagai sebuah renungan.
Apakah ketika seseorang telah berpulang, jasa dan perjuangannya ikut berakhir?
Apakah penghormatan kepada seorang pejuang hanya diperlukan ketika ia masih hidup, masih memiliki jabatan, atau masih mempunyai pengaruh?
Bagi saya, jawabannya tentu tidak.
Justru ketika seseorang telah tiada dan tidak lagi dapat memberikan apa pun kepada kita, saat itulah ketulusan penghormatan menjadi sesuatu yang bermakna.
Kehadiran pemerintah di pemakaman seorang tokoh atau pejuang daerah bukan semata-mata soal seremoni. Bukan pula hanya sebuah formalitas.
Ini adalah bentuk penghargaan terhadap sejarah.
Namun jika hari ini tidak ada utusan pemerintah yang hadir, biarlah masyarakat yang menjadi saksi bahwa nama Benyamin Utusan tidak hilang begitu saja.
Sebab kami masyarakat Bolmut masih mengingat.
Kami tahu bahwa di balik perjalanan panjang pemekaran daerah ini, ada orang-orang yang pernah berjuang.
Ada nama-nama yang mungkin tidak selalu disebut dalam pidato-pidato resmi.
Ada orang-orang yang mungkin tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya.
Tetapi jasa mereka tetap menjadi bagian dari sejarah.
Benyamin Utusan adalah salah satunya.
Pemerintahan boleh berganti.
Bupati boleh berganti.
Pejabat boleh berganti.
Tetapi sejarah tidak boleh ikut berganti hanya karena orang-orang yang pernah memperjuangkannya telah tiada.
Jangan sampai kita hanya menikmati hasil sebuah perjuangan, tetapi melupakan mereka yang pernah ikut memperjuangkannya.
Hari ini, Bapak Benyamin Utusan telah meninggalkan kita.
Tidak ada lagi kesempatan untuk berjabat tangan dengannya.
Tidak ada lagi kesempatan untuk berbincang dengannya.
Tidak ada lagi kesempatan untuk mengucapkan secara langsung bahwa perjuangan yang pernah dilakukan memiliki arti bagi daerah ini.
Maka setidaknya, biarlah masyarakat menyampaikan penghormatan itu melalui ingatan.
Selamat jalan, Bapak Benyamin Utusan.
Walaupun Pemkab Bolmut tak menghadirkan utusan, kami masyarakat yang masih mengingat sejarah perjuangan daerah ini tidak lupa namamu.
Engkau mungkin telah pergi, tetapi jasa dan perjuanganmu akan tetap menjadi bagian dari cerita panjang Bolaang Mongondow Utara.
Namamu boleh terdiam bersama kepergianmu, tetapi jasamu tidak akan kami biarkan hilang ditelan waktu.
Terima kasih atas segala tenaga, pikiran dan pengorbananmu untuk daerah ini.
Selamat jalan, Bapak Benyamin Utusan.
Semoga jasa-jasamu atas daerah ini akan kami kenang selalu.



